anak belajar dari kehidupannya

16 04 2010


Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan cemohan,
Ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian,
Ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan perlakuan sebaik-baiknya,
Ia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
Ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
Ia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Sumber :
TOSERBA SURGAWI,
Sumantri Hp





Tujuh daun teh…

25 02 2010
Ada tulisan yang menarik untuk di pelajari, saya mengambilnya dari Buku “TOSERBA SURGAWI” karangan Sumantri HP

Pada zaman permulaan Kristen, seorang dokter dipenjarakan secara tidak adil oleh Kaisar. Setelah beberapa minggu, keluarganya diizinkan menengoknya. Mereka begitu sedih, melihat pakaiannya compang-camping, makananya tiap hari hanya sepotong roti dan secangkir air. Namun istri dokter ini heran dan bertanya, “Bagaimana mungkin kamu kelihatan begitu sehat ? kamu tampak seperti seseorang yang baru dating dari suatu pesta pernikahan.”

Dokter itu tersenyum. Ia mengatakan, ia menemukan sejenis teh yang mujarab untuk melawan penderitaan dan sedihan. Teh itu terdiri dari 7 macam daun-daunan sebagai berikut :


Daun pertama sebut saja “kepuasan”
Puas lah dengan apa yang kau punyai. Aku memang kedinginan dalam paikaian rombengku. Dan terasa tak nyaman kala mengunyah serpihan-serpihan roti keringku. Tetapi seharusnya kondisiku jauh lebih buruk seandainya kaisar melemparkan aku dalam keadaan telanjang ke sebuah penjara di bawah tanah tampa makanan sama sekali.

Daun kedua sebut saja “akal sehat”
Gembira atau sedih, aku tetap di penjara, mengapa harus mengeluh ?

Daun ketiga sebut saja “kenangan” akan dosa-dosa lama”
Hitunglah itu dan atas perkiraan bahwa setiap dosa patut mendapat ganjaran penjara satu hari, hitunglah beberapa lama harus kita jalani dalam penjara. Apa yang aku alami tidak seberapa.

Daun keempat ialah “ingatan akan penderitaan yang ditanggung Yesus dengan rela bagi kita”
Bila satu-satunya orang yang pernah dapat memilih penderitaan, nilai luar biasa apakah yang dilihat-Nya di dalamnya. Karena itu, kita yakin, penderitaan yang kita tanggung dengan tenang dan penuh kesabaran memberi kita nilai tambah dalam hidup ini.

Daun kelima ialah “pengetahuan bahwa penderitaan yang diberikan kepada kita oleh Tuhan seperti dari seorang ayah, tidak untuk merugikan kita tetapi untuk menguji kita”
Penderitaan yang kita lalui mempunyai tujuan untuk memurnikan hidup kita dan membuat kita rendah hati.

Daun keenam adalah “pengetahuan bahwa tak ada penderitaan yang dapat merugikan kehidupan seorang Kristiani”
Bila kesenangan daging merupakan segalanya, maka sakit dan penjara mengakhiri tujuan hidup seseorang. Tetapi bila sumber kehidupan adalah kebenaran, maka penjara tidak dapat menghentikan kita dari mencintai, untuk percaya dan selalu hidup damai di mana pun aku berada.

Daun ketujuh merupakan “harapan”
Roda kehidupan tidak selamanya akan meletakan dokter di penjara, mungkin dia akan kembali ke istana dan bahkan mungkin duduk di singgasana kerajaan.

semoga pesan yang ada di dalam tulisan ini bermanfaat bagi anda.

salam,
bernadusnana








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.